Jumat, 06 Oktober 2017

Peran Geospasial Dalam Mendorong Pengembangan Ekonomi Kreatif Nasional



“Jika dirawat dengan baik, tikar purun ini dapat bertahan hingga satu dasawarsa. Untuk membuat tikar besar dibutuhkan tiga ikat purun, dengan harga per ikat sebesar Rp 10.000. Setelah ditumbuk dan dianyam, tikar dijual seharga Rp 50.000. Di sini upah menganyam dianggap sebagai keuntungan. Sebagai pekerjaan sampingan di waktu luang, rerata keuntungan sebesar 15 hingga 20 ribu rupiah per produk tidak begitu dipermasalahkan”, begitu kira-kira informasi yang saya dapat usai berdialog dengan puluhan pengrajin purun yang tergabung dalam Kelompok Karang Lansia Sejahtera di Banjarmasin, Jum’at, 21 Juli 2017.

“Kalau tikar berwarna harganya berapa, Nek?”, tanya saya lebih lanjut.

“Sama saja, Nak”, jawabnya pelan.


Pengrajin Purun di Banjarmasin (Retno Septyorini, 2017)


Karena masih membidik segmen lokal, kalau dijual dengan harga yang lebih mahal akan kalah bersaing dengan pengrajin lain yang tidak perlu membeli bahan baku. Padahal jika mau berinovasi, bukan tidak mungkin produk purun buatan nenek-nekek Banjar yang dianyam begitu rapi dan kuat ini mampu menembus segmentasi pasar premium yang lebih luas dan terarah. Di sinilah peran kreativitas mutlak diperlukan.

Senin, 28 Agustus 2017

Rumah Tumbuh Tempat Ngangsu Kawruh Itu Bernama Jogja

Tugu Jogja


“Perbedaan itu tidak harus dikompromikan, tetapi perlu pengertian sehingga terwujud toleransi”, Sri Sultan Hamengku Buwono X (dilansir dari Republika, 2016) (1).

Sebagai kota multikultural, nuansa Jogja terasa begitu istimewa. Tidak hanya pada “raga” yang menyajikan aneka rupa tema wisata lengkap dengan segala “pemanisnya”, namun juga pada “jiwa-jiwa” yang menyediakan arena yang sebegitu nyamannya pada penghormatan atas perbedaan agama, suku maupun budaya.


Sabtu, 04 Maret 2017

Daftar Kuliner Enak Khas Jogja yang Sayang Jika Dilewatkan Begitu Saja

Banner Lomba Blog #2thGandjelRel
(sumber: www.gandjelrel.com)
Siapa sih yang mau nolak buat liburan di Jogja? Selain dikenal sebagai salah satu surga wisata murah Indonesia, pilihan wisata di Jogja terbilang melimpah. Pecinta wisata sejarah bisa menjelajah berbagai tempat bersejarah mulai dari Candi Ratu Boko, Museum Ullen Sentalu, Museum Anak Kolong Tangga hingga Keraton Jogja dan puluhan tempat menarik lainnya. Begitu pula dengan penikmat wisata alam dan fotografi. Tinggal datangi saja aneka tempat super istimewa di Jogja yang tak ada duanya seperti Gumuk Pasir, Kalibiru, puluhan pantai cantik yang tersebar dari Bantul hingga Gunungkidul atau yang terbaru, berburu keindahan sunrise dan sunset di berbagai bukit menawan di sekitar Kebun Buah Mangunan. Pokoknya mah tinggal disesuaikan saja dengan selera wisata teman-teman semua. 

Asyiknya lagi nih, Jogja juga menawarkan aneka event wisata tahunan yang gratis biaya masuk. Tinggal datang lalu nikmati saja performancenya. Penyuka musik jazz bisa rehat sejenak ke acara Ngayogjazz ataupun Jazz Mben Senen. Pecinta seni dan budaya bisa berkunjung ke Festival Kesenian Yogyakarta, Jogja Street Art Performance, Festival Gamelan Jogja hingga Pekan Budaya Tionghoa.  Begitu pula dengan penikmat kuliner kota gudeg, bisa berburu puluhan kudapan tempo dulu seperti sego wiwit, kipo, wajik ketan, sate kere, klepon dan “teman-teman”nya di event Pasar Kangen. Nggak akan ada habisnya deh kalau ngomongin soal wisata beserta sederet kuliner khas di sekitar Jogja. Mungkin berbagai alasan inilah yang membuat Jogja tetap menjadi primadona wisata di Indonesia.

***

“Terus kalau sudah di Jogja,enaknya nyicip apa ya?”.

Kalau saya ditanya begini sama teman yang mau atau sedang liburan di Jogja, maka saya akan menjawab dengan sepatah kata saja, “banyaaaaaaak!”. Gimana enggak coba, Jogja itu luas banget! Di sisi selatan ada Bantul. Pindah ke bagian barat ada Kulon Progo. Lanjut ke sisi timur ada Gunungkidul. Terus kalau mbolang ke arah utara ada Kota Jogja dan juga Sleman. Jadi mau jalan kemana bisa menentukan arah kulinerannya.

Mmmm, kalau menurutmu enaknya kulineran kemana aja Ret?”.

Kalau ditanya lebih spesifik kayak gini, saya akan menyodorkan daftar kuliner enak khas Jogja yang sayang jika dilewatkan begitu saja berikut ini. Yuk, kepoin yuk?

Sate Klatak 

Kalau ditanya musti nyicipin apa saat liburan ke Jogja, Sate Klatak-lah jawabannya. Sate paling fenomenal di Jogja ini sejatinya merupakan makanan khas dari Imogiri, Kabupaten Bantul. Kalau dari Bandara Adisucipto ataupun Stasiun Tugu, kawasan Imogiri dapat ditempuh sekitar 45 hingga 60 menit perjalanan.

Proses Pembuatan Sate Klatak

Selasa, 29 November 2016

Batik Gedangsari, Warisan Budaya Besutan Astra

Siswa Binaan YPA-MDR Berfoto Bersama Pengunjung JIBB dan Pengurus YPA-MDR
Kini nama Batik Gedangsari ibarat primadona baru di kancah perbatikan nasional Indonesia. Siapa sangka meroketnya pamor batik dari Gunungkidul ini ternyata tidak lepas dari peran Corporate Sosial Responsibility (CSR) PT. Astra International Tbk (selanjutnya disebut dengan Astra) yang dilakukan melalui Yayasan Pendidikan Astra-Michael D. Ruslim (YPA-MDR). Tahun ini, Batik Gedangsari terlibat tiga event fashion besar, mulai dari ajang bergengsi INACRAFT 2016, menjadi bagian dari peragaan busana bertajuk “Gedangsari Berlari” karya desainer muda berprestasi Lulu Lutfi Labibi hingga pameran dan peragaan busana pada event batik internasional, Jogja International Batik Biennale (JIBB) 2016.

Kamis, 10 November 2016

Menelisik Inovasi Wisata Jogja yang Membuatnya Kian Istimewa

Penataan Kembali Pedestrian di Kawasan Malioboro
Sudah sejak lama Jogja menjadi salah satu destinasi wisata yang digemari wisatawan lokal maupun wisatawan mancanegara. Data Badan Pusat Statistik (BPS) RI yang menunjukkan bahwa perkembangan jumlah wisatawan asing yang berkunjung ke Jogja menempati urutan tertinggi di lingkup nasional. Data tersebut diperoleh dari statistik kunjungan wisatawan mancanegara yang masuk melalui Bandara Adisucipto selama bulan Januari hingga Juli 2016. Dibandingkan dengan tahun sebelumnya, kunjungan wisatawan asing di Jogja mengalami peningkatan sebesar 41,89%, jauh melebihi kenaikan di Lombok kunjungan wisatawan asing di Lombok yang berada di angka 33%.

Minggu, 06 November 2016

Wonton Tengiri, Kreasi Olahan Ikan yang Mudah, Hemat, Lezat Pula ! Yakin Nggak Mau Nyobain?

Kreasi Wonton Tengiri
“Ada gula, ada semut”, lanjutnya baaaang!
“Musim hujan seringkali sukses bikin laper perut”, huft….
Begitulah kondisi yang kerap saya rasakan saat diguyur musim hujan. Kalau pas nggak hujan sih nggak gitu masalah. Waktu sinyak lapardatang tiba-tiba, tinggal keluar sebentar, lalu jalan ke warung makan andalan. Tentu tanpa perlu kehujanan. Beda cerita kalau musim hujan tiba. Mau beli cemilan saja wajib lihat cuaca. Padahal bawaannya pingin nyemil teruusss. Duh!

Minggu, 30 Oktober 2016

Tenang Saja, Meski Aturan Parkirnya Baru, Malioboro Itu Masih Seasik Dahulu, Kok!

Taman Parkir Abu Bakar Ali
(dokumentasi pribadi)
Belum lengkap rasanya liburan ke Jogja tanpa menyempatkan diri berkunjung ke Malioboro. Si jantung pariwisata Jogja yang begitu mempesona itu lho! Selain dapat mencicipi aneka kuliner khas kota gudeg, berbagai produk khas Jogja juga tumblek bleg di sini. Mau keliling naik Andong bisa. Mau icip-icip pecel senggol pun masih tersedia. Bedanya cuma terletak di area parkirannya saja, kok!

Meski memarkirkan kendaraan di kantong parkir yang disediakan terdengar merepotkan, namun sejatinya aturan baru ini membuat area pedestrian semakin nyaman. Penerapan aturan parkir baru ini membuat jantung pariwisata Jogja mengalami perubahan yang signifikan. Kini tak ada lagi kendaraan bermotor yang parkir di pinggir jalan. Seasyik apa sih Malioboro saat ini? Kepoin aja gih!

 

Cerita NOLNIL Template by Ipietoon Cute Blog Design

Blogger Templates